Tampilkan postingan dengan label hiv. Tampilkan semua postingan

[caption id="attachment_8824" align="alignnone" width="694"] Jus Amazon Plus, bantu sembuhkan HIV pada anak...[/caption]

AIDS (Acquired Imunodeficiency Syndrome) tidak cuma menjangkiti orang dewasa. Di Kenya, UNAids/UNICEF mencatat ada sekitar 200.000 anak berusia 0-14 tahun yang sudah hidup 'berdampingan' dengan HIV. Beruntung ada yang mau menampung mereka.

Adalah Nyumbani Children's Home. Sekilas tempat ini seperti taman kanak-anak atau panti asuhan biasa. Namun siapa sangka, penghuninya sebagian besar adalah anak-anak yang mengidap HIV, bahkan ada yang usianya masih dua tahun.

Mereka terpaksa tinggal di penampungan seperti Nyumbani karena rata-rata dari mereka sudah yatim piatu dan tak ada sanak saudara yang mau mengurus.

Sejak didirikan pada tahun 1992 oleh Pastor Angelo D'Agostino, Nyumbani telah menampung lebih dari 50.000 anak pengidap HIV. Menurut pengelolanya, Suster Mary Owen, dulunya mereka menampung setiap anak yang diduga terjangkit HIV dari orang tuanya hingga usia 'status' mereka telah dipastikan. Pada waktu itu, diagnosis AIDS membutuhkan waktu hingga 18 bulan.

"Tapi sekarang kami tidak menerima sembarang anak, kecuali yang benar-benar positif HIV karena kita kan sekarang punya tes HIV yang cuma butuh enam minggu," ujar Suster Owen seperti dikutip dari BBC, Kamis (24/7/2014).

Kendati begitu, baru di tahun 2000 atau 8 tahun kemudian, Pastor D'Agostino mendapatkan bantuan obat-obatan antiretroviral (ARV) atau anti-HIV/AIDS pertama untuk anak-anak malang ini. Lantas di tahun 2005, Nyumbani terpilih sebagai salah satu penerima suntikan dana dari AS lewat mekanisme Pepfar (President's Emergency Plan for Aids Relief).

Di sinilah kemudian mulai muncul tantangan baru. Pertama, beberapa anak sudah bertahun-tahun meminum ARV, bahkan ada yang sampai 10 tahun. Akibatnya, sebagian di antaranya ada yang sudah resisten terhadap ARV. AIDS (Acquired Imunodeficiency Syndrome) tidak cuma menjangkiti orang dewasa. Di Kenya, UNAids/UNICEF mencatat ada sekitar 200.000 anak berusia 0-14 tahun yang sudah hidup 'berdampingan' dengan HIV. Beruntung ada yang mau menampung mereka.

Adalah Nyumbani Children's Home. Sekilas tempat ini seperti taman kanak-anak atau panti asuhan biasa. Namun siapa sangka, penghuninya sebagian besar adalah anak-anak yang mengidap HIV, bahkan ada yang usianya masih dua tahun.

Mereka terpaksa tinggal di penampungan seperti Nyumbani karena rata-rata dari mereka sudah yatim piatu dan tak ada sanak saudara yang mau mengurus.

Sejak didirikan pada tahun 1992 oleh Pastor Angelo D'Agostino, Nyumbani telah menampung lebih dari 50.000 anak pengidap HIV. Menurut pengelolanya, Suster Mary Owen, dulunya mereka menampung setiap anak yang diduga terjangkit HIV dari orang tuanya hingga usia 'status' mereka telah dipastikan. Pada waktu itu, diagnosis AIDS membutuhkan waktu hingga 18 bulan.

"Tapi sekarang kami tidak menerima sembarang anak, kecuali yang benar-benar positif HIV karena kita kan sekarang punya tes HIV yang cuma butuh enam minggu," ujar Suster Owen seperti dikutip dari BBC, Kamis (24/7/2014).

Kendati begitu, baru di tahun 2000 atau 8 tahun kemudian, Pastor D'Agostino mendapatkan bantuan obat-obatan antiretroviral (ARV) atau anti-HIV/AIDS pertama untuk anak-anak malang ini. Lantas di tahun 2005, Nyumbani terpilih sebagai salah satu penerima suntikan dana dari AS lewat mekanisme Pepfar (President's Emergency Plan for Aids Relief).

Di sinilah kemudian mulai muncul tantangan baru. Pertama, beberapa anak sudah bertahun-tahun meminum ARV, bahkan ada yang sampai 10 tahun. Akibatnya, sebagian di antaranya ada yang sudah resisten terhadap ARV.Kedua, sebagian besar ARV yang mereka konsumsi bukan disuplai oleh pemerintah, sehingga pengelola Nyumbani harus mendatangkannya langsung dari luar negeri. "Kami pun harus mencarinya lebih dini sehingga mereka tidak akan kehilangan dosis satu pun. Karena ini adalah opsi terakhir untuk anak-anak ini," ungkap salah seorang suster yang bekerja untuk Nyumbani.

Tantangan ketiga adalah anak-anak seringkali kesulitan menelan pil-pil ARV yang besar, keras dan pahit. Pil ini pun sejatinya hanya untuk orang dewasa.

Karena sebagian anak sudah resisten, para perawat di Nyumbani juga terpaksa memberikan dosis lebih. Seperti halnya yang terjadi pada John (bukan nama sebenarnya). Ia mengaku menenggak 18 pil ARV dalam sehari, masing-masing 9 pil di pagi dan sore hari.

"Di negara maju, hanya sedikit anak yang terlahir dengan HIV, sehingga perusahaan-perusahaan farmasi tidak tertarik untuk memproduksinya (pil ARV untuk anak). Dan di negara berkembang tak banyak profit yang bisa mereka dapatkan," keluh Suster Owen.

Suster Owen menambahkan pil-pil ARV untuk dewasa itu terkadang harus dibagi menjadi dua, dikeluarkan serbuknya dari dalam kapsul atau digerus agar lebih mudah dikonsumsi oleh anak-anak mereka.

Setidaknya ada satu hal yang masih bisa membuat Suster Owen tersenyum simpul. Ia melihat adanya peningkatan kondisi kehidupan anak-anak dengan HIV yang pernah ia rawat. Termasuk makin banyaknya akses yang diberikan kepada penderita AIDS untuk mendapatkan pengobatan.

"Beberapa anak yang dulunya pernah ditampung di sini sekarang juga sudah ada yang punya istri dan anak. Bahkan anaknya tidak terinfeksi HIV, begitu juga dengan istrinya. Saya bersyukur kepada Tuhan untuk itu," tutupnya.

Melbourne, WHO memprediksi di tahun 2030, jumlah kasus HIV-AIDS akan menurun drastis seiring dengan makin terbukanya akses pengobatan bagi para penderita, terutama di negara-negara berkembang. Namun upaya ini bukannya tak menemui hambatan.

"Hampir 12 juta orang di negara-negara berkembang kini telah mendapat obat antiretroviral (ARV). Semakin banyak orang yang mendapat pengobatan lebih awal dan mereka perlu mendapat perawatan seumur hidupnya," ujar dr Jennifer Cohn dari organisasi kemanusiaan medis internasional, Medecins Sans Frontieres/Dokter Lintas Batas (MSF) saat menghadiri Konferensi AIDS Internasional di Melbourne.

Direktur Medis Kampanye Akses MSF tersebut menjelaskan ada dua macam perawatan tambahan untuk meningkatkan kualitas hidup penderita HIV-AIDS. Pertama, 'viral load testing' secara rutin.

Tes ini diklaim sebagai cara terbaik untuk memonitor efektivitas obat antiretroviral yang diberikan kepada pasien, dengan cara menghitung jumlah virus yang 'tersisa' dalam darah setelah diberi obat HIV. Dengan tes ini, dokter dapat melihat apakah pasien merespons pengobatan yang diberikan dengan baik atau tidak.

"Hal ini bila ditambah dengan konseling dan dukungan akan membantu pasien agar bisa bertahan dengan obat lini pertama dalam waktu yang lebih lama," ungkap dr Cohn dalam rilis yang diterima detikHealth, Selasa (22/7/2014).

'Viral load monitoring' ini juga dikatakan lebih akurat dan lebih cepat mendeteksi apakah pasien butuh perawatan lini kedua atau lini ketiga andaikata pengobatan yang saat ini mereka dapatkan ternyata tak mampu bekerja dengan baik.

MSF juga melaporkan di sejumlah negara dengan jumlah kasus HIV-AIDS tertinggi di dunia seperti India, Kenya, Malawi, Afrika Selatan dan Zimbabwe sebenarnya 'viral load monitoring' sudah mulai diimplementasikan, meskipun belum dalam skala yang luas. Hanya saja menurut dr Cohn, kendalanya terletak pada biaya tes yang masih selangit.

"Kami tahu apa yang dibutuhkan untuk membantu memastikan virus HIV bisa ditekan hingga tak terdeteksi dan jumlahnya tetap bertahan di level itu. Tapi di sebagian besar daerah kerja kami, harganya tidak terjangkau," keluh dr Cohn.

Ini belum termasuk mahalnya harga obat-obatan yang dibutuhkan para pengidap HIV-AIDS, terutama obat lini kedua. Berdasarkan laporan tahunan MSF tentang harga obat-obatan untuk pasien HIV-AIDS yang bertajuk Untangling the Web of Antiretroviral Price Reductions, harga obat lini pertama dan sebagian obat lini kedua memang telah menurun dalam kurun 12 bulan terakhir. Sumber : Detik.com

Namun harga obat lini kedua masih dua kali lebih mahal dibandingkan obat lini pertama. Bahkan di beberapa negara dengan penduduk berpenghasilan menengah ke bawah, mereka rata-rata harus membayar 12 kali lebih mahal dari harga terendah.

“Ayo, kita pulang ke rumah,” ujar Lidya kepada Winda, bukan nama sebenarnya 2007 silam. Winda adalah anak jalanan di Jakarta yang kala itu berumur 14 tahun, sedang hamil, dan sakit-sakitan. Lidya yang berkecimpung di pelayanan anak jalanan memang kerap merawat anak jalanan yang sakit di rumahnya sebelum dikembalikan ke tempat asalnya dalam kondisi sehat.

Kondisi Winda saat itu amat memprihatinkan. Ia juga hamil karena pemerkosaan. “Paginya saya periksakan Winda ke dokter. Dokter lantas menyarankan saya untuk melakukan tes HIV pada Winda,” cerita Lidya. Ketika Winda dinyatakan positif mengidap HIV, Lidya kaget. Ia tidak pernah menemukan kasus HIV/AIDS secara langsung sebelumnya.

“Saya sadar tidak mungkin mengembalikannya ke jalanan dengan kondisi seperti ini. Panti asuhan atau dinas sosial pun tidak mau menampung Winda. Lalu saya berpikir, kenapa tidak dimulai dari diri saya sendiri?” Lidya lalu merawat Winda di rumahnya sampai Winda melahirkan Juan. “Bayinya lahir dalam kondisi sehat, setelah 1.5 tahun umurnya, saya membawanya untuk tes HIV, hasilnya negatif,”tutur Lidya.

Setelah kelahiran Juan, Lidya memutuskan untuk menjadikan rumahnya sebagai tempat bernaung sementara bagi wanita dan anak-anak dengan HIV/AIDS atau anak-anak yang orang tuanya terifeksi HIV/AIDS. Untuk wanita hamil yang positif HIV Lydia bersama para relawan melakukan pendampingan dan memberikan program PMTCT (Prevention Mother to Child Transmission). Anak-anak yang lahir dari para wanita dampingan ini rata-rata sehat, tidak ikut terinveksi HIV. “Berapa juta jiwa yang bisa kita selamatkan kalau kita lebih peduli?” kata Lidya.

Lydia juga masih menampung anak-anak ODHA. Ia menjelaskan bahwa rumahnya adalah tempat berlindung sementara sampai anak-anak tersebut bisa kembali ke keluarganya. Biasanya, anak-anak ODHA tersebut tinggal di House of Blessing karena orangtua merasa segan, belum mau menerima kondisi anak atau kekurangan biaya. “Sementara kami merawat anak-anak tersebut, proses reintegrasi juga dijalankan sehingga nantinya anak-anak bisa kembali kepada keluarganya. Kami mau membantu, tetapi sekaligus juga melatih tanggung jawab keluarga terhadap anak-anak mereka,” ujar Lidya.

Lydia masih tekun menjalankan misinya memberikan dukungan kepada lebih banyak ODHA. Setelah Jakarta, dalam waktu dekat ia berencana membuka House of Blessing di Bogor. “Keberanian untuk menolong itu suatu keharusan,” tandasnya. Kompas, Senin, 2/12/2013, hal. 35, Rubrik, Ragam Tips Kesehatan.

Amazon Plus bisa diandalkan

Jus Amazon Plus merupakan herbal berkhasiat yang dapat membantu anak-anak dengan ODHA. Dengan rasanya yang enak, jus ajaib ini diminum kapan saja dan di mana saja. Diolah dari buah-buahan dengan kandungan antioksidan terbaik, menjadikan Amazon Plus sangat berkhasiat. Amazon Plus sama dengan kombinasi buah manggis, delima merah, zaitun hydroxytyrosol, acai berry, blue berry dan tomat. Cukup 30 ml bagi si anak, 3 kali sehari dapat membantu menaikkan tingkat kekebalan tubuh. Semoga bermanfaat. Terima kasih.

Ketika seseorang mengidap penyakit HIV/AIDS ada perasaan putus asa dalam dirinya. Penolakan oleh sebagian masyarakat yang enggan berinteraksi dengan ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) semakin menambah beban psikis si penderita. Beberapa alasan mengapa sebagian besar orang tidak mau berinteraksi dengan para penderita HIV/AIDS, salah satunya karena mereka takut tertular. Hal ini menunjukkan ketidaktahuan atau keterbatasan informasi bagi mereka yang tidak mengidap penyakit yang menyerang sistem pertahanan tubuh ini.

Apa itu AIDS?

Jangan menolak mereka yang menderita HIV/AIDS. Saatnya lebih terbuka dan waspada. AIDS (acquired immune defiency syndrome) atau sindrom kehilangan kekebalan tubuh adalah sekumpulan gejala penyakit yang menyerang tubuh manusia sesudah sistem kekebalannya dirusak oleh virus yang disebut HIV (human immunodeficiency virus). Tubuh kita memiliki sistem kekebalan yang berfungsi melindungi kita dari penyakit apa pun yang menyerang dari luar. Salah satu sel yang bertanggung jawab terhadap imunitas tersebut adalah CD4, fungsinya mengaktifkan sistem kekebalan tubuh, tergantung apakah ada kuman yang harus dilawan.

“Pada orang sehat, jumlahnya 500-1.000 sel per millimeter kubik darah. Pada orang yang terinfeksi HIV, jumlahnya terus menurun,” jelas Opik Sulaiman, dari Yayasan Spirit Paramacitta, Kamis, 28/11/13, Kompas, Senin, 2/12/2013, hal. 39, Rubrik, Ragam Tips Kesehatan.

Penularan dan pencegahan

HIV ditularkan melalui tiga jalur, yakni hubungan seksual, transfusi darah dan pemakaian alat-alat yang sudah tercemar HIV seperti jarum suntik dan pisau cukur serta melalui ibu yang hidup dengan HIV kepada janin di kandungannya atau bayi yang disusuinya. Untuk memperkecil risiko tertular HIV melalui hubungan seksual, prinsip paling dasar adalah tidak melakukan hubungan seksual selain dengan istri. Bahasa sederhananya, jangan berhubungan seks dengan pekerja seks komersial. Kondom bukanlah jawaban untuk pencegahan, namun demi mendukung program Badan Kesehatan Dunia dan Pemerintah, lakukan hubungan seks aman dengan menggunakan kondom.

“Untuk ibu dengan HIV/AIDS dapat mencegah penularan pada anak dengan program PPTCT (Prevention Parent to Child Transmission). Ibu harus minum obat antiretroviral atau ARV untuk menekan virusnya sebelum kehamilan. Pada saat melahirkan, meski dengan melahirkan normal pun bayi bisa saja tidak tertular, risiko penularan bisa ditekan lagi dengan bedah caesar,” jelas Opik.

 

Pengobatan

Saat ini, HIV/AIDS ditangani dengan terapi antiretroviral karena HIV adalah retrovirus. ARV tidak membunuh virus, tetapi dapat memperlambat pertumbuhannya. “Terapi dengan ARV berfungsi meningkatkan kekebalan tubuh sekaligus menekan pertumbuhan virus,” tutur Opik.

Belum ada jawaban pasti, kapan terapi ini harus dimulai. Sebagian dokter akan mempertimbangkan jumlah CD4 dan gejala yang timbul. Menurut pedoman WHO, terapi antiretroviral sebaiknya sudah dimulai sebelum CD4 turun di bawah angka 350. Berdasarkan data terakhir Kementrian Kesehatan Juni 2013, jumlah orang yang terinfeksi HIV di Indonesia adalah 108.600 orang dan jumlah kasus AIDS 43.667, sementara jumlah ODHA yang sedang mendapatkan pengobatan ARV 34.961 orang. Kompas, Senin, 2/12/2013, hal. 39, Rubrik, Ragam Tips Kesehatan.

Bergandengan tangan

Pengobatan medis adalah sebuah keharusan bagi orang yang terinfeksi HIV. Namun di satu sisi, kita tidak boleh mengabaikan kekayaan hasil alam Indonesia yang bisa membantu memperpanjang usia hidup para ODHA. Banyak tanaman dan tumbuhan herbal di Indonesia yang memiliki khasiat membantu para ODHA dalam melawan penyakitnya. Sebut saja buah manggis, ratu segala buah ini memiliki kemampuan dalam membunuh virus HIV. Hasil penelitian laboratorium memang belum ada kesimpulan mengenai hal itu, tetapi pengalaman empirik sudah banyak kisah kesaksian yang sembuh dari HIV dengan minum jus manggis.

Kuncinya dari penanganan penderita HIV/AIDS adalah bagaimana menaikkan secepat mungkin CD4 mereka agar sistem kekebalan tubuhnya kembali normal. Dengan demikian pertumbuhan virus HIV pun terhambat bahkan nol alias non reaktif. Selain manggis, ada daun sirsak yang bisa membantu para penderita HIV/AIDS. Testimoni empirik ODHA yang merasa hidup mereka telah kembali setelah minum daun sirsak saudah banyak ditemukan.

Bukankah para penderita HIV/AIDS juga mengidap penyakit dalam yang kronis seperti kanker hati, kanker paruparu, dsbnya. Penyakit-penyakit tersebut di atas datang karena sistem kekebalan tubuh sudah habis. Adalah sebuah pilihan tepat tatkala minum ARV juga minum herbal-herbal dari Indonesia. Mungkinkah jus Amazon Plus dan K-Muricata yang menjadi penolong saudara, ataukah Amazon Berries dan K-Muricata yang menjadi jalan keluar saudara dalam memerangi penyakit ini? Pilihan ada di tangan saudara, tugas kami hanya mengabarkan untuk saudara. Cegah dan obati HIV/AIDS dengan herbal dikombinasikan dengan obat medis, bisa!!
Diberdayakan oleh Blogger.